Segala sesuatu yang terjadi pada diri kita adalah karena diri kita sendiri. Kita begitu banyak ‘menciptakan’ sesuatu yang ‘buruk’ di dalam diri kita dan kadang menganggapnya sebagai ulah orang lain. Padahal diri kitalah yang sebenarnya ‘menciptakan’ keburukan-keburukan itu. Pikiran kitalah yang menciptakan semuanya itu. Ada begitu banyak keburukan yang kita ciptakan secara sadar dan tidak sadar. Suatu hari kita marah pada orang lain, membenci, iri hati, dendam, ataupun hanya sebatas jengkel. Pernahkah kita berpikir jika semua itu yang membuat kita tak pernah merasa damai, tentram, dan bahagia. Yang kita tahu dan yang biasa kita tahu hanyalah menoleh ke arah orang lain, menyalahkan orang itu atas apa yang terjadi pada diri kita. Kita tak pernah menoleh pada diri kita sendiri. Seolah kita seperti orang buta yang selalu bercermin pada cermin berdebu yang selalu berhasil membuat diri kita merasa jika kita lebih baik dari orang lain. Yang perlu kita lakukan hanya membuka mata hati, bersihkan cermin itu dari debu, maka kau akan melihat siapa dirimu yang sebenarnya.
Saat kau marah, kau menciptakan kemarahan di dalam dirimu. Di saat kau dendam, kau menciptakan api dendam di dalam dirimu. Di saat kau membenci, kau ciptakan kebencian di dalam dirimu. Dari kata “kau menciptakan” itu kita bisa tahu jika yang menjadi pusat segala keburukan itu adalah “kau”. Kau akan merasa damai dan tentram di saat kau tidak “menciptakan” hal-hal itu. Alangkah bahagianya orang yang hidup tanpa kebencian, dendam, iri hati, dan kemarahan. Berbahagialah mereka yang menemukan kebahagiaan di dalam diri mereka, karena mereka mampu “menciptakan” kebahagian itu di dalam diri mereka.
Andaikan, di dalam diri kita, di saat kita lahir ke dunia, kita memiliki sebuah kertas kosong yang masih putih dan bersih. Hanya kita sendiri yang bisa menulisi kertas itu, dan tak ada seorang pun bisa menulisinya selain kita. Dan kemudian, seiring berjalannya waktu, secara perlahan kita mengisi kertas itu dengan berbagai hal. Di atas kertas itu akan tertulis banyak hal, seperti kebencian, iri hati, kemarahan, kebodohan, kebohongan, dan lain sebagainya. Apapun yang kita tulisi di atas kertas itu, tetap saja membuat kertas itu terlihat kotor. Kertas itu tak putih lagi. Apa yang bisa kita lakukan untuk membuat kertas itu putih lagi. Apakah ada sesuatu yang bisa membuatnya putih kembali? Tidak ada. Tapi ada satu hal yang bisa kita lakukan untuk membuatnya terlihat seperti putih. Kita bisa menyinarinya dengan cahaya putih yang paling terang. Cahaya yang lebih terang dari seribu matahari. Maka apa yang tertulis di kertas itu takkan terlihat lagi. Kertas yang sudah kotor itu seolah terlihat putih kembali. Lalu dimanakah cahaya yang paling terang itu? Aku pikir kita semua tahu jawabannya.
Akhir kata aku hanya bisa berkata, “Pikiran itu seperti air. Untuk bisa melihat seperti apa dirimu yang sebenarnya, bercerminlah di air yang tenang dan jernih…”