Sering kudengar di telingaku pertanyaan, apakah itu cinta?  Pertanyaan yang selalu datang dari orang lain atau mungkin juga datang dari diriku sendiri. Dari pertanyaan itu pula muncul orang-orang yang memberikan jawaban dengan kata-kata mereka sendiri. Aku pun memiliki kata-kataku sendiri, tapi hingga saat ini aku tak menemukan apa-apa, hanya ribuan pertanyaan yang tak terjawab. Sama seperti saat aku berada dalam sebuah kubah besar yang menutupi pandanganku ke langit yang luas. Aku tak mengerti apa pun, bahkan tak mengerti pada diriku sendiri.

Setiap cerita kesedihan yang kudengar dan yang kualami membuatku semakin kuat, atau kadang membuatku semakin lemah. Setiap jalan yang kutempuh adalah jalan yang seharusnya membuatku semakin kuat, karena aku tahu apa yang seharusnya kulakukan dan apa yang tidak seharusnya kulakukan. Kusebut itu sebagai jalan hidup. Bagi orang lain, itu adalah penyesalan.

Hidup ini seperti sebuah jejak yang mulai terhapus oleh waktu. Kutinggalkan jejakku dalam terowongan yang gelap dan tak seorangpun bisa melihatnya jika mereka hanya mengandalkan sang kegelapan yang takkan pernah memberikan cahayanya. Jika demikian aku mungkin sedang berjalan pada sebuah jalan yang tak pasti dimana akhir dari jalan itu. Aku tak bisa menemukan jalan kembali karena aku berada di dalam kegelapan. Akhirnya, kehidupan yang penuh cinta ini kujalani tanpa cinta.

Cinta yang kumiliki seperti sebuah mimpi yang tak pernah bisa kuraih. Ia hanya bisa menyentuh bagian luar dari hatiku.

Aku jatuh cinta, namun tak berani menerima cinta itu karena terkadang aku yakin ia akan menyakiti diriku. Di sisi lain aku percaya bila cinta adalah seperti seorang sahabat yang akan menghangatkan jiwa-jiwa yang kedinginan. Cinta yang akan menemani setiap langkah manusia atau menjadi semangat yang tak pernah padam. Aku tak tahu apakah cinta itu akan menyakiti hatiku atau akan menghangatkan jiwaku yang kedinginan. Aku lebih memilih menjadi air yang mengalir bebas, yang pada akhirnya akan bertemu dengan lautan. Kubiarkan hatiku yang memilihnya.

Hari-hariku selalu berlalu dalam putaran yang menjemukan pikiran. Kuinginkan sesuatu yang bisa membuatku berpikir bahwa aku ini adalah seorang yang paling berarti bagi dunia, namun aku memang tak punya arti, bahkan untuk orang-orang yang kusayangi. Mungkin aku memang ditakdirkan seperti itu, tapi aku tak ingin jika hanya terpaku pada takdir yang mungkin bukan untukku, tapi takdir itu hanya untuk masa kini, bukan untuk masa depanku. Aku berharap jika masa depan itu ada di depanku. Ia sangat dekat hingga aku bisa menyentuhnya.

Aku merindukan masa depan seperti aku merindukan seseorang yang ingin kusayangi dengan sepenuh hati. Mungkinkah ia ada di luar sana? Mungkinkah ia ada dan sedang menunggu sama seperti diriku? Ataukah dia ada di dekatku namun tak kusadari? Mungkinkah ia cinta sejati itu? Aku ingin mencari cinta sejati itu, walaupun terkadang aku ragu. Dan keraguan itu hanya menipiskan harapanku untuk menemukan dirinya.

Seseorang pernah bertanya padaku, apakah cinta sejati itu ada? Aku hanya bisa menjawab, cinta sejati hanya ada bagi orang yang mempercayainya. Lalu ia bertanya lagi, apakah aku percaya cinta sejati itu ada? Aku tak bisa menjawab pertanyaan itu karena aku tak tahu apa-apa. Aku bagaikan seorang penulis novel yang tak tahu mau menulis apa. Aku hanya orang bodoh dengan seribu pertanyaan bodoh yang tak bisa kujawab sendiri. Aku tak tahu tentang diriku sendiri, apakah aku percaya cinta sejati itu ada atau tidak. Aku tak tahu ia ada atau tidak karena aku tak pernah bertemu dengannya, aku tak pernah merasakannya. Apakah aku harus percaya ia ada jika kemudian aku akan dikecewakan olehnya karena ia tak kunjung datang padaku? Tapi aku hanya bisa mencari tanpa bisa menemukan.

Adakah kisah yang benar-benar romantis di dunia ini? Seperti kisah-kisah yang ditulis oleh seorang penulis besar. Mungkin hanya mimpi, atau mungkin hanya angan-angan. Kita punya keinginan untuk memiliki kisah yang paling romantis di antara kisah-kisah yang lain, tapi ternyata kisah kita hanya sebuah roman picisan. Apakah kita butuh kisah-kisah seperti itu? Menurutku hidup ini seharusnya dijalani apa adanya, tanpa kemunafikan, tanpa kebohongan, tanpa bersembunyi dari kenyataan. Namun tetap saja keserakahan itu ada, tetap saja kemunafikan itu ada, tetap saja kebohongan itu ada, dan tetap saja ada orang orang-orang lari dari kenyataan.

Jika kuingat tentang diriku, aku pernah bersembunyi dari kenyataan bahwa aku pernah merindukan seseorang, aku pernah memuja seseorang, aku pernah menginginkan seseorang untuk menjadi bagian dari hidupku. Tapi pada saat aku keluar dari tempat persembunyianku, segalanya telah berubah. Cinta yang pernah kumiliki telah berubah menjadi sakit hati yang membuatku terdiam mungkin untuk selamanya. Siapakah yang telah menyakiti hatiku? Apakah cinta? Aku akan jadi orang bodoh jika berkata cinta telah menyakitiku. Kusadari bahwa akulah yang menyakiti diriku sendiri. Aku sendiri yang telah menggores hatiku dengan sebilah pisau dengan bersembunyi dari kenyataan. Tapi semua yang aku pernah alami akan menjadi pelajaran yang sangat berharga.

Kisahku seperti sebuah mimpi yang terlupakan, karena aku memang ingin melupakannya. Kisahku tak pernah seperti yang kuharapkan, dan selalu begitu. Itu membuatku tak ingin punya kisah yang lain. Aku hanya bisa mendengar kisah orang lain yang terkadang membuatku merasa iri, tapi sudahlah karena ini adalah jalan yang ingin kutempuh. Bukankah kita selalu punya jalan kita sendiri? Biarkan saja orang lain berjalan menuju ke arah matahari, jika menurutmu matahari takkan pernah bisa diraih. Biarkan saja orang lain melangkah mengikuti aliran sungai, jika kau bisa bebas seperti angin. Biarkan saja orang lain melangkah menuju cahaya, jika kau sendiri menganggap kegelapan lebih abadi. Hidup ini adalah jalan yang siap untuk dilalui entah dari mana kau ingin memulainya.

Sebuah hubungan percintaan terjalin, lalu putus, terjalin kembali, lalu putus lagi. Apakah akan ada akhir dari semuanya itu? Bagiku semuanya hanyalah sebuah lingkaran yang tak pernah putus. Perbedaan terkadang menjadi tembok pemisah yang tak bisa dirobohkan. Ada orang yang ingin menyamakan perbedaan, ada pula yang menyatukan perbedaan. Kenapa harus menyamakan perbedaan jika kita semua adalah berbeda? Kita takkan pernah bisa menjadi seseorang yang diinginkan oleh orang lain. Kita tak pernah bisa selamanya berpura-pura menjadi orang lain, karena kita bukan orang lain. Cinta tak mengenal perbedaan, karena ia menyatukan perbedaan itu, bukan menyamakannya. Seperti puzzle yang disusun dari banyak bagian yang berbeda, namun setelah bersatu dalam kesesuaian ia akan menampakkan arti dari satu kesatuan. Bayangkan saja puzzle yang semua bagiannya adalah sama, maka kau akan mengerti kenapa kita semua berbeda.

Saat kita sendirian, kita seolah ditemani angin yang berbisik lembut yang selalu setia di mana pun kita berada. Di saat kita bahagia kita melupakan angin yang pernah menyejukkan hati kita. Orang yang dalam kesedihan mengingat segalanya, orang yang bahagia kadang melupakan segalanya. Mana yang lebih bijaksana? Apakah aku harus berada dalam kesedihan untuk mengingat segalanya? Atau merasa bahagia, namun melupakan orang lain?

Aku selalu menganggap diriku adalah orang dengan banyak kekurangan, karena itu aku ingin jadi orang yang sempurna, tapi tak ada yang sempurna di dunia ini dan aku bisa menerimanya. Aku belajar tentang kehidupan yang kujalani, tapi pelajaran yang kudapatkan adalah pelajaran yang kadang menyakitkan. Aku belajar menerima rasa sakit yang orang lain rasakan. Rasa sakit itu sama dengan yang kurasakan saat aku terjatuh dari sebuah harapan yang sangat tinggi. Untuk itu aku tak ingin berharap terlalu tinggi pada sesuatu, termasuk berharap pada sang dewi cinta. Tak ada gunanya hanya berharap. Berharap akan datangnya sesuatu yang kau inginkan, atau berharap orang lain akan menyayangimu. Harapan kadang membawa semangat, namun harapan kosong hanya akan membawa rasa sakit.

Kita selalu belajar dari kesalahan yang pernah kita buat, lalu berusaha untuk menjadi lebih baik lagi dari hari kemarin. Tapi rasa putus asa kadang menerpa dan membuat kita semakin jatuh ke dalam jurang yang terdalam. Adakah sesuatu yang bisa membangkitkan hati yang sudah hancur lebur? Adakah sesuatu yang bisa menyatukan gelas yang sudah pecah? Aku berharap tak pernah mengalaminya. Nikmati saja hidup ini seperti saat kau meminum air yang segar di tengah gurun pasir yang panas. Biarkan saja hati yang hancur, namun tidak untuk harapan hidup.

Aku merasa cinta terkadang seperti rangkaian kata-kata yang kutuliskan dalam puisi-puisiku. Rangkaian kata-kata itu mungkin terdengar indah di telingaku, tapi bukankah kata-kata itu berada pada sebuah kertas putih yang menyebabkan semuanya terlihat indah? Saat kita sedang membaca sebuah puisi, kita melupakan sesuatu yang membuat puisi itu bisa dibaca, yang membuat puisi itu bisa kita lihat, yang membuat puisi itu bisa kita dengar. Kita melupakan kenapa kita berada di sini. Tapi kertas-kertas kosong yang menumpuk di meja hanya akan menjadi sampah jika tak kutuliskan sesuatu. Sama seperti kanvas kosong yang terpajang di dinding. Kanvas itu takkan diperhatikan orang lain, karena ia tak memiliki keindahan.

Orang bilang cinta itu buta, tapi menurutku kitalah yang sebenarnya buta. Buta akan segalanya. Tak heran jika kita selalu tersesat dalam memilih jalan. Kita bagai dituntun oleh mata hati yang tertutup sinar matahari. Sinar matahari itu begitu jelas terlihat, tapi kita disilaukan olehnya. Mata kita tidak buta, mata kita bisa melihat segalanya. Hanya kita tak pernah melihat apa yang ada di depan, karena kita hanya bisa melihat cahaya yang menyilaukan mata. Maka kita tak bisa memilih apa-apa. Bukankah mata kita lebih peka dengan kilauan yang gemerlap dari pada kemuliaan yang tersembunyi di balik kegelapan. Mata kita selalu disilaukan oleh keinginan-keinginan yang menuntun kita pada jalan yang salah. Mungkin kita biarkan saja mata kita buta, namun masih bisa meraba-raba mana yang baik dan mana yang buruk. Daripada harus disilaukan oleh sesuatu yang belum tentu benar.

Ada banyak pertanyaan yang menghantui pikiranku. Kapankah pertanyaan-pertanyaan itu akan berakhir? Anggap saja aku sudah memiliki jawaban dari pertanyaan-pertanyaan itu yang tersimpan di dalam sebuah kamar rahasia yang terkunci. Anggap saja aku yang membawa kunci kamar itu, dan aku bisa membuka kamar itu kapan saja aku mau. Akulah yang memegang kunci dari semua yang ingin aku jalani. Diri kitalah yang menentukan ke mana kita akan berjalan. Saat kau berpikir untuk maju ke depan, maka kau akan maju ke depan. Saat kau takut untuk melangkah, maka kau takkan pernah melangkah. Kita sendiri yang menentukan, bukan orang lain.

Hidup ini seperti pencarian yang tak pernah berakhir, karena kita tak pernah tahu apa yang sebenarnya kita cari. Di dunia ini yang kita cari hanyalah kebahagiaan sesaat. Yang selalu kita inginkan adalah kebahagian yang bisa kita rasakan untuk saat ini saja. Lalu kemudian kita merasa sedih, lalu kita ingin menangis, lalu kita merasa iri jika orang lain bahagia, lalu kita merasa tak berarti saat orang lain tertawa. Bukankah ada kebahagiaan di saat kita melihat orang lain bahagia? Bukankah kita juga akan ikut tertawa di saat orang lain tertawa? Bukankah kita akan ikut bersedih jika orang lain menangis? Di manakah letak kebahagiaan dan kesedihan itu? Ada pada diri kita atau orang lain?

Malam seolah datang dan pergi ke dalam lingkaran yang tiada henti. Aku merasakan diriku hanyalah sebuah patung yang dipajang di tengah-tengah pemakaman. Aku merasa sendirian dalam kabut kesedihan yang datang setiap saat. Pernahkah kau lihat ada orang yang bahagia di depan pusara-pusara itu? Pernahkah kau lihat ada orang yang bahagia melihat orang yang dicintai pergi? Aku merasa hidupku sangat menyedihkan. Kapankah yang kurasakan ini akan berubah menjadi yang kuinginkan? Aku seperti benih rerumputan yang diterbangkan oleh angin. Aku tak tahu dimana aku akan tumbuh. Aku tak tahu apakah nanti aku akan menemukan tanah yang subur, atau tanah yang selalu dilanda kekeringan.

Kulihat sebuah bintang yang perlahan meredup karena awan yang menutupinya. Tapi aku tahu ia tak pernah meredup seperti yang kulihat. Ia adalah cahaya yang jauh yang tak dapat kusentuh. Ia adalah yang bersinar tiada henti. Awan hanya penutup dari pikiranku yang sempit, dan membuatnya semakin sempit. Ada sesuatu yang menutupi pikiranku. Sesuatu yang tak terlihat namun dapat kurasakan. Aku tahu ia adalah egoku yang menyempitkan aliran darahku, dan menekan dadaku hingga sesak. Ia seharusnya tak ada lagi di hati, karena ia pernah menyeretku pada satu kebodohan.

Terkadang hidup ini terasa seperti hujan yang terus turun di musim kemarau, atau kekeringan yang melanda di musim hujan. Akan selalu ada sesuatu yang tak pernah berjalan sesuai dengan apa yang kita inginkan. Sama seperti kebahagiaan yang selalu diharapkan namun tak pernah datang, atau kesedihan yang tak diharapkan namun tetap saja datang. Begitulah hidup, semuanya adalah keinginan yang tak pasti, karena memang tak ada yang pasti di dunia ini. Kita hanya bisa berharap pada langit yang tuli, memohon pada air yang tak peduli, atau merengek pada angin yang hanya bisa berbisik tak jelas. Tak ada jawaban dari apa yang kau inginkan.

Bayangkan saat kekeringan melanda dunia, mungkin seperti itulah dunia ini jika tanpa kasih sayang. Tapi dunia ini memang tak pernah memiliki kasih sayang, karena manusia telah melupakan dunia itu sendiri. Semuanya tak peduli lagi pada dunia. Bagaimana kita bisa peduli jika kita tak pernah dipedulikan? Bagaimana kita bisa menyayangi jika kita tak pernah disayangi? Pertanyaan-pertanyaan yang mungkin bisa kau jawab, namun tidak secepat kau menjawab pertanyaan, “Maukah kau menerima hadiahku ini?” Kita akan merasa sangat senang jika disayangi, juga diperhatikan. Seperti menerima hadiah di saat hari ulang tahun.

Pernahkah kau bertanya, apa yang akan kau dapatkan jika kau menyayangi seseorang? Apakah yang akan kau dapatkan jika kau peduli pada seseorang? Lalu kau bertanya lagi, apakah pertanyaan-pertanyaan itu memiliki jawaban? Semua pertanyaan memiliki jawaban, tapi jawaban itu tak datang begitu saja, karena kadang jawaban itu tersembunyi di dalam diri kita. Bagiku jawabannya adalah kebijaksanaan. Kebijaksanaan yang menuntun kita pada sesuatu yang kita cari. Jawaban-jawaban dari pertanyaan-pertanyaan yang ada di benak kita. Namun aku sendiri tak tahu dimanakah letak kebijaksaan itu saat dunia ini masih ditutupi oleh pertanyaan-pertanyaan yang mampu membunuh pikiran. Mungkin kebijaksanaan itu tak mampu menjawab pertanyaan-pertanyaanku, atau ia memang tak peduli lagi pada diriku.

Pernahkah kau merasa saat di mana orang lain tak peduli lagi padamu? Pernahkah ada masa saat di mana kau benar-benar merasakan kesendirian yang amat menyiksa? Mungkin sebagian besar orang akan menjawab iya, karena memang demikianlah harusnya manusia menjalani hidupnya. Kadang harus merasakan kesendirian, kadang harus menyadari jika tak semua orang menginginkan keberadaan kita. Kita baru mengerti arti kesendirian jika pernah mengalaminya, juga mengerti artinya kesedihan saat merasakannya. Tapi kita tak pernah menginginkan kesendirian dan kesedihan itu. Yang kita inginkan hanyalah rasa bahagia, lalu bahagia dan bahagia. Kita melupakan segala kesedihan yang kita miliki, meski kita tahu kesedihanlah yang membuat kita lebih kuat dari sebelumnya. Kesedihan pula yang membuat kebahagiaan itu ada.

Seorang teman datang padaku dan bertanya, “Apakah kau setuju memilih untuk bersedih daripada melihat orang lain yang merasakan kesedihanmu itu?” Aku hanya mengangguk, mengiyakan pertanyaannya, lalu ia membalas hanya dengan senyuman. Aku tak mengerti, apakah ia memiliki jawaban yang sama denganku atau tidak. Apakah salah jika kita berkorban untuk orang lain, walau kita sendiri harus menderita? Mungkin ada yang bilang itu salah, dan mungkin juga ada yang bilang itu benar. Entah mana yang lebih bijaksana. Kita memang harus rela berkorban, untuk diri sendiri dan bahkan untuk orang lain. Meski pengorbanan itu dihargai atau tidak, setidaknya kita masih percaya bahwa dari pengorbanan itu kita akan mendapatkan kemulian.

Orang bilang cinta itu butuh pengorbanan. Saat ini kau mungkin tak ingin berkorban demi cinta, namun setelah kau merasakan kenapa dirimu jatuh bangun karena cinta, di saat itulah kau sadar jika sebenarnya kau telah mengorbankan perasaanmu untuk menyayangi seseorang.

Pernah aku bertanya pada seorang teman, “Apakah pengorbanan itu perlu dalam cinta?”

Ia menjawab perlu. Menurutnya tak ada cinta jika tanpa pengorbanan. Pengorbanan membuat cinta itu terasa lebih dalam, hingga menyentuh jauh ke dalam jiwa. Ia menambahkan, pengorbanan itu membuat cinta terasa lebih indah. Lalu ia bertanya padaku, “Apakah kau setuju?”

Aku hanya diam, karena aku tak pernah mengerti. Mungkin saja apa yang ia katakan itu benar. Aku bertanya lagi padanya, “Bagaimana jika pengorbanan itu sia-sia?”

Lalu ia menjawab, “Berarti tak pernah ada cinta.”

“Jadi pengorbanan itu perlu walau tahu akan sia-sia?” tanyaku lagi. “Kenapa harus menyia-nyiakan sesuatu yang berharga demi hal yang tak pasti?”

“Karena kita tak pernah tahu pengorbanan itu sia-sia atau tidak. Kita berkorban hanya karena kita yakin bahwa pengorbanan itu takkan sia-sia, walaupun pada akhirnya pengorbanan itu sia-sia. Jika tak pernah berani berkorban, kau takkan pernah menemukan arti cinta sejati itu,” jelasnya padaku. “Sebenarnya tak pernah ada sesuatu yang sia-sia untuk dilakukan di dunia ini. Semua memiliki kebaikannya tersendiri. Semuanya adalah tentang pembelajaran kita akan hidup. Jadi kenapa harus takut melakukan sesuatu, karena yang kita lakukan adalah belajar untuk mengenal dunia.”

Aku mungkin tak mengerti apa arti pengorbanan itu, tapi aku mengerti kenapa orang-orang rela berkorban demi apa yang mereka percayai dan yakini. Jika tak pernah yakin dan percaya, mana bisa berkorban. Lalu aku menyadari jika diriku adalah keraguan yang selalu menyelimuti pikiranku. Aku tak pernah yakin dengan apa yang aku inginkan, dan dengan apa yang aku pikirkan setiap detik di dalam hidupku. Yang aku tahu, aku punya jalanku sendiri. Jalan itu menuntunku pada satu tujuan, yaitu tempat tertinggi di dunia. Tak ada cinta dan tak ada pengorbanan untuk cinta, yang ada hanya jalan setapak penuh duri. Dan jalan itu berakhir pada pengorbananku terhadap perasaanku yang terdalam. Karena selama ini aku selalu membunuh perasaan cinta yang tumbuh pada diriku. Kuanggap sebagai pengorbananku pada jalan yang kupilih. Mungkin bagi orang lain adalah pengkhianatan kata hati. Tapi semuanya akan berubah, seiring semakin luasnya pemikiranku.

Di saat aku merasa sendiri, kadang kupandangi diriku lewat cermin. Kupandangi diriku seolah bayanganku adalah orang lain yang sedang menatapku. Aku selalu berpikir, bagaimana orang lain melihatku? Apakah sama seperti saat aku menatap diriku sendiri? Aku takkan pernah tahu, karena setiap orang memiliki pandangan yang berbeda akan sesuatu. Pandangan itu bisa datang dari berbagai sudut yang berbeda. Pasti ada orang yang memandangiku dari sudut yang sempit, dan ada pula yang memperhatikanku dari sudut yang terbuka. Maka akan ada banyak pendapat mereka akan diriku. Aku memang tak pernah bisa menilai diriku sendiri. Bisa jadi aku adalah orang yang sombong karena selalu membanggakan sesuatu yang tak pantas dibanggakan, atau menjadi orang yang terlalu rendah diri padahal ada sesuatu yang patut aku banggakan. Maka biarkan saja orang lain menilaiku sekehendak mereka.

Setiap orang pasti ingin mencari seseorang yang mengerti tentang dirinya. Atau seseorang yang memiliki pandangan yang sama akan sesuatu. Seseorang yang bisa menilai kepribadian masing-masing secara benar dan menyeluruh. Bisa dikatakan, aku menginginkan ada seseorang yang mengerti akan diriku sepenuhnya, memiliki pandangan yang sama denganku, atau hanya sebagai pendengar yang baik dari cerita-cerita sedihku. Aku tak pernah tahu apakah ada orang yang bisa mengerti akan diriku sepenuhnya. Pemikiranku rumit, kadang aku sendiri tak mengerti. Prinsipku tak bisa kujelaskan dengan kata-kataku sendiri, seperti mendengar bahasa asing yang tak kukenal. Obsesiku hampir seperti sebuah cita-cita yang mustahil, dan langkahku selalu terhenti karena hal-hal kecil. Menurutku orang bisa mati karena hal-hal kecil. Oleh hal-hal yang dianggap orang sepele. Sungguh ironis dan juga tragis jika kau mati hanya karena hal-hal kecil itu.

Aku terlalu banyak berpikir tentang dunia, tentang derita dunia, tentang tangisan orang-orang yang kesakitan, atau tentang betapa lemahnya diriku untuk bisa merubah dunia. Bagaimana mungkin aku bisa merubah dunia jika aku sendiri tak pernah berubah menjadi orang yang lebih baik. Mungkin aku bisa meninggalkan sesuatu untuk dunia ini. Sesuatu yang bisa dikenang dengan indah, atau sesuatu yang dimaki orang. Sekarang aku tinggal pilih yang mana.

Memang benar jika hidup itu sulit, atau manusiakah yang membuatnya jadi sulit. Menurutku hidup itu sederhana, tapi orang-orang membuatnya terasa sulit. Mana yang lebih memberikan kebahagiaan, yang rumit atau yang sederhana? Pertanyaan itu akan sama dengan pertanyaan, “Jalan mana yang kau pilih untuk sampai di tempat tujuan? Jalan yang berliku-liku dan menyengsarakan atau jalan yang lurus dan menyenangkan?” Pasti banyak orang yang akan memilih jalan yang lurus. Karena mereka berpikir, buat apa jalan yang berliku-liku dan menyusahkan jika ada jalan yang santai dan menyenangkan? Demikian pula dengan diriku. Tapi terkadang menghadapi kenyataan tak semudah melewati jalan yang lurus. Ternyata masih ada orang yang rela melewati jalan yang berliku demi satu hal yang ia yakini, padahal ia bisa aja mengambil jalan yang lurus, namun tak pernah ia lakukan. Kenapa? Apakah ada sesuatu yang membuatnya menjadi bodoh sebodoh-bodohnya? Bisa dibilang seperti kau mencintai seseorang, namun tak ingin kehilangan orang itu, meskipun di dunia ini ada banyak pilihan yang mungkin lebih baik dari pilihanmu. Ada orang yang bilang hal itu adalah hal bodoh, tapi sebagian lagi bilang jika hal itu sangat menyentuh. Untuk saat ini aku sendiri tak mengerti. Mungkin suatu hari nanti aku akan mengerti, atau bahkan mengalaminya sendiri.

Jika kupikir lebih jauh lagi, apakah cinta sejati seperti itu? Sesuatu yang bisa membuatmu melakukan apa yang sebelumnya tak bisa kau lakukan. Melakukan hal-hal yang terdengar bodoh di telinga orang lain, namun kau tak peduli dan tetap melakukannya. Sesuatu yang membuatmu memilih jalan yang berliku-liku dalam hidupmu namun kau tak pernah menyesal. Sulit untuk kumengerti. Bagiku cinta sejati adalah saat dimana satu ditambah satu adalah satu. Dan, aku pun semakin tambah tak mengerti. Aku hanya bisa tersenyum sambil mengerutkan keningku. Begitu juga dengan orang lain yang mendengar ucapanku itu. Di dunia manapun, satu ditambah satu adalah dua. Jika hasilnya adalah satu maka hasil itu adalah sebuah kemustahilan. Lalu apakah itu berarti cinta sejati adalah sebuah kemustahilan? Menurutku bukan seperti itu. Cinta sejati adalah saat dimana dua jiwa seolah menjadi satu kesatuan yang utuh. Sama seperti dua sisi koin yang saling melengkapi. Orang melihatnya satu, namun di dalam satu itu ada dua sisi yang berbeda. Takkan pernah ada yang bisa memisahkan kedua sisi itu. Mungkin seperti itulah cinta sejati. Tak terpisahkan selamanya…

Banyak orang bilang cinta sejati itu selalu dipenuhi jalan yang berliku. Di jalan itu ada terdapat banyak tangis dan air mata, namun tak jarang pula ada tawa bahagia yang mampu membuat jiwa terbang ke tempat tertinggi. Lalu jika demikian adanya, apakah kau rela melewati jalan yang berliku dan menyengsarakan tadi demi meraih apa yang kau yakini? Tak semua orang mampu bertahan, dan tak semua orang sampai di tujuannya. Jika hatimu kuat, maka langkahmu seperti langkah seekor gajah yang tak bisa dihalangi oleh siapapun. Jika hatimu lemah, maka kau sudah mundur sebelum pertempuran terjadi.

Bagiku jalan yang berliku adalah jalan yang selalu manusia lewati. Apakah mungkin ada orang yang jalan hidupnya mulus dari lahir hingga ia mati? Pasti ada saat untuk menangis, ada pula saat untuk tertawa. Mana mungkin kita bisa merasakan kebahagian jika kita tak pernah merasakan penderitaan. Kebahagiaan dan penderitaan selalu ada di setiap kisah hidup manusia. Kadang kita berada di puncak tertinggi, kadang harus terbenam ke dalam kubangan lumpur. Jika ada manusia yang tak pernah merasakan kedua hal itu, mungkin ia adalah bukan manusia yang sempurna. Sama seperti kehidupan cinta. Ada kalanya patah hati, ada kalanya jatuh cinta. Aku jadi teringat dengan sebuah pernyataan dari seorang novelis Perancis yang mengatakan, “Kebahagian cinta berlangsung sesaat, sedangkan penderitaannya berlangsung sepanjang hayat.” Apakah kau setuju?

Dalam hidup ini lebih banyak orang yang menderita daripada orang yang bahagia. Karena begitu sulitnya menemukan arti kebahagiaan yang sesungguhnya. Saat kau memiliki apa yang kau inginkan mungkin kau merasakan kesenangan, namun lambat laun kau tak peduli lagi dengan apa yang kau miliki itu karena kau menginginkan yang lebih besar lagi. Pikiranmu inginkan sesuatu namun tak bisa kau raih, lalu kau bersedih. Mungkin karena hal inilah sebagian besar hidup kita selalu kita lalui dalam kesedihan. Kita tak pernah puas dengan apa yang kita miliki. Namun sulit untuk lepas dari keinginan, karena keinginan adalah manusiawi. Tanpa keinginan manusia tak bisa hidup.

Malam temaram datang pada tidurku. Sebuah mimpi datang, namun aku tak bisa mengingat mimpi itu. Aku selalu melupakan mimpi-mimpi yang datang padaku, namun tidak untuk mimpi-mimpi yang indah. Mimpi bagiku seperti keinginan yang tersembunyi, atau pikiran-pikiran yang terlupakan. Mimpi bisa membuaimu seolah kau berada di dunia nyata. Namun saat kau terbangun, kau hanya bisa tersenyum dengan sedikit rasa kesal, karena semuanya hanya mimpi. Mungkin aku adalah seorang pemimpi yang selalu inginkan mimpi-mimpi indah datang di setiap tidurku. Tapi bukankah semua orang menginginkan hal yang sama denganku? Kita ini adalah pemimpi yang ingin mimpi-mimpi indah kita jadi kenyataan.

Aku sebagai seorang pria ingin memimpikan seorang wanita dengan kesempurnaannya. Namun kesempurnaan itu hanya ada di dalam mimpiku. Dalam kenyataan aku tak pernah menemukan seseorang yang sempurna untukku. Bila kuingat-ingat, ada ucapan yang menyatakan jika perempuan itu adalah laki-laki yang tak sempurna. Demikian yang dikatakan oleh seorang Aristoteles pada dunia. Tapi bukankah terdengar terlalu merendahkan seorang wanita, karena dunia ini takkan pernah ada jika wanita tak ada. Demikian juga saat di dunia ini tidak ada pria. Mungkin laki-laki adalah perempuan yang tak sempurna. Maka mereka akan saling melengkapi satu sama lain.

Coba bayangkan jika kita hidup dengan penuh kedamaian, tanpa sedikit pun rasa takut yang menghantui. Bagiku dunia yang seperti itu takkan pernah ada. Jika semua yang ada di duna ini hanya jalan-jalan yang sempurna, lalu dimanakah tantangan hidup yang sebenarnya. Dimana letak makna pengorbanan, kesedihan, dan derita untuk mencapai tujuan, karena apa yang kita inginkan selalu ada. Mungkin dunia itu adalah surga, namun dunia ini bukanlah surga. Kita tak pernah tahu dimanakah letak surga itu. Demikian juga dimanakah neraka berada. Kita mencari tujuan yang tak pernah kita ketahui keberadaannya. Namun bagiku bukan itu yang kita cari.

Surga itu ada di dalam pikiran kita. Demikian juga neraka, ada di dalam pikiran kita. Semua yang kita cari sebenarnya ada di dalam diri kita, namun kita selalu melihat keluar. Melihat jika dunia luar itu lebih indah, lebih sempurna, namun tetap saja kita tak pernah menemukan keindahan dan kesempurnaan itu. Seperti saat kita mencari makna cinta. Orang rela mengelilingi dunia hanya untuk mencari makna cinta, namun mereka menemukan jawabannya saat mereka kembali.