Miya, nama yang dulu sering kudengar di saat aku tertidur. Dia datang di setiap mimpi-mimpi indahku, namun mimpi-mimpi itu sering kulupakan, karena aku tak ingin dibuai oleh mimpi yang semu. Aku ingin ia selalu ada di sampingku, setia menemaniku di saat aku tenggelam dalam kesedihan, atau mengingatkanku di saat aku lupa akan segalanya. Tapi kini yang kutahu ia hanyalah sebuah dongeng masa lalu yang akan terlupakan. Ia telah pergi dari sampingku. Aku menyadari jika sebenarnya aku tak pernah mengenal dirinya. Aku sadar jika aku telah menyakiti dirinya. Aku tak pernah menyelam ke dalam hatinya yang terdalam, namun setidaknya ia pernah menghangatkan jiwaku, walau hanya sesaat.
Masih kuingat saat ia bicara padaku dengan tutur katanya yang lembut. Masih kuingat saat ia tersenyum padaku dan menatapku dengan matanya yang bersinar cerah. Ia memang seperti sebuah mimpi bagiku, mimpi yang menjadi kenyataan. Namun sekarang kenyataan itu telah berbalik menjadi sebuah mimpi, karena aku hanya bisa memimpikan dirinya, di saat ia tak memimpikanku lagi. Kini ia berada jauh dari jangkauanku. Ia berada di tempat tertinggi yang tak bisa kuraih.
Ia pernah membuatku merasa tak sendirian lagi. Ia menyadarkanku bahwa kesepian itu, walau selalu hadir di dalam diriku, namun kesepian itu pula yang menjadi teman setiaku. Walau dalam kesendirian aku masih bisa merasakan kehadiran seseorang di sampingku. Entah siapa yang hadir di sana, tapi yang pasti aku bisa merasakan kehadiran dirinya. Kehadirannya membuat banyak perbedaan, namun kehilangannya membuat satu penyesalan.
Ribuan puisi mungkin telah tercipta untuknya, namun puisi-puisi itu akan segera terlupakan seiring ia melupakan diriku. Mungkin ia bukan seseorang yang kucari selama ini. Mungkin ia bukan cinta sejati itu. Aku hanya bisa berkata mungkin, karena aku tak tahu apakah yang kukatakan adalah kepastian atau bukan. Yang kucari di dunia ini adalah sebuah kepastian, seperti yang orang lain cari.
Saat aku berdiri di depan cermin dan menatap diriku, aku merasa aku bukan orang yang pantas untuk dicintai oleh dirinya. Aku hanya bisa menghindar dari bisikan-bisikan hatiku. Terkadang ia berteriak dalam rasa sakit yang dalam, namun kubiarkan saja ia berteriak karena teriakannya itu tak bisa kudengar lagi. Hatiku telah kututup rapat-rapat hingga tak ada suara yang bisa kudengar datang dari dalam. Aku mulai berpegang pada janji-janji pada diriku sendiri. Janji-janji itu adalah suara hatiku, namun dalam bentuk yang berbeda.
Sulit bagiku untuk jatuh cinta lagi, jika di dalam benakku masih ada dirinya. Aku tak ingin terluka saat aku jatuh dalam buaian yang membuatku melupakan segalanya. Kubiarkan saja hatiku menangis dalam kesendirian yang perih, namun aku masih bisa menikmati perih itu sebagai kekuatan yang membuatku merasa lebih hidup dari sebelumnya. Bisa kurasakan perih saat lukaku ini disiram air garam, namun pada saat yang bersamaan aku bisa merasakan bahwa diriku ini hidup, dan akan hidup untuk dirinya.
Jika aku terdiam pada suatu waktu, aku bisa mengingat semua kenangan yang ia berikan padaku. Seperti sebuah kisah romantis yang selalu kubaca setiap hari. Namun kisah itu tertulis di dalam benakku dan tak bisa aku lupakan begitu saja. Kisah itu juga yang menginspirasi setiap langkahku. Aku sampai di jalan ini mungkin karena kisah itu. Meskipun saat ini kisahku adalah sebuah kisah kesedihan.
Suatu hari ia berkata padaku, “I can not find a place where I can not find you…” Aku melanjutkannya dengan, “Do you see my eyes in my face that I will always love you…”.
Aku merangkai kata-kata itu, hingga akhirnya kata-kata itupun menjadi sebuah puisi. Salah satu puisi yang aku tuliskan untuknya.
There’s always love, love and love in our hands,
Beside you is me and love that will never end,
Always you, inside of my soul and my body,
And there’s always you inside me till the eternity,
I can’t find that such grace that warms my heart,
As I know that you are the one always in my heart,
And you know I can’t see a place where I can’t see you,
Wherever I go, in my heart there is always you.
And I know I can’t find a place where I can’t find you,
See my eyes in my face that I will always love you.
Puisi itu tertulis di sebuah kertas putih yang masih kusimpan sampai detik ini. Kutulis dengan tinta berwarna emas, namun aku tak tahu apakah puisi itu akan tetap seperti kilauan emas saat ia sudah melupakan aku, ataupun saat aku telah melupakan dirinya. Puisi itu hanya akan jadi kenangan bagiku, atau akan jadi curahan hati orang lain saat ia membacanya. Kupikir, puisi itu akan menjadi rasa sakit untuk dirinya.
Ada begitu banyak kenangan yang aku tulis dalam rangkaian kata-kata. Seolah aku ingin mengabadikan semua kenangan indah yang aku alami dalam sebuah buku tentang kisahku. Tapi aku bukanlah seseorang yang membutuhkan hal seperti itu. Aku hanyalah seorang penulis yang ingin terus menulis. Entah saat aku sedang bersedih atau saat aku bahagia. Aku ingin tetap menulis, menulis tentang segalanya. Jika aku mau, aku bisa saja terus menulis tentang dirinya.
Jika kupikirkan lagi tentang dirinya, maka aku akan tahu jika sebagian besar dari tulisanku adalah tentang dirinya. Seperti yang kutulis saat ini. Mungkin karena dia adalah sebuah inspirasi bagiku. Sebuah inspirasi besar yang jarang datang padaku, dan ternyata ia bisa memberikan inspirasi besar itu padaku. Bagiku ia seperti malam yang dipenuhi oleh cahaya. Cahaya berjuta bintang yang tak bisa kuhitung. Juga bulan yang memancarkan cahayanya yang lembut. Ya, ia seperti malam itu, malam yang kutunggu setiap hari.
Ia bicara tentang cinta padaku. Ia bicara tentang hidup. Ia bicara banyak hal hingga aku merasa aku bukanlah apa-apa. Saat ia bicara, ia seperti membisikkan hal-hal indah ke dalam telingaku. Keindahan itulah yang membuatku mengagumi dirinya. Bahkan aku merasa ia mengucapkan sesuatu padaku di saat ia menatapku, di saat ia tertawa, di saat ia tersenyum, juga disaat ia menangis. Ia seolah mengucapkan kata-kata itu dalam bisikan angin, gemericik air, atau gemuruh ombak. Lalu aku sadari jika ucapannya terlambat untuk aku mengerti.
Sempat aku bertanya dalam hati, apakah aku bisa menemukan seseorang seperti dirinya? Seseorang yang bisa memberikan aku kedamaian di hati. Seseorang yang mampu membuatku bangkit di kala aku jatuh. Seseorang yang bisa menerimaku apa adanya. Dan seseorang yang selalu hadir di saat aku membutuhkannya. Yang kutahu, ia telah lama menjadi sosok yang sempurna bagiku, dan akan selalu begitu.
Kini yang yang ada di dalam diriku hanyalah kesendirian yang panjang. Tanpa dia, tanpa siapapun. Kadang aku hanya bisa merenung, merenungkan makna kesendirian, juga merenungkan kesempurnaan dirinya. Apakah aku cukup bodoh untuk bisa kehilangan dirinya? Yang kutahu, aku cukup bodoh untuk membiarkan dirinya menganggap aku tak menyayanginya lagi. Aku ingin melupakan apa yang telah aku lakukan pada dirinya. Jika ia ingin, ia berhak untuk membenciku.
Suatu ketika, pada sebuah malam di tengah jalanan kota, aku bertemu dengan dirinya. Ia menatapku dari seberang jalan. Ia seakan ingin mengatakan sesuatu padaku dengan tatapannya itu. Aku hanya terdiam menatap matanya yang sudah tak bersinar lagi. Kami berdiam diri sekian lama, meski lampu hijau untuk menyeberang sudah menyala. Terasa berat kakiku untuk melangkah menyeberangi jalan itu. Aku merasa ada jarak yang sangat jauh antara aku dengan dirinya. Jarak yang penuh dengan rintangan berat.
Kakiku ingin melangkah mendekatinya, tapi ada sesuatu yang membuatnya tak bisa bergerak. Hatiku berteriak keras, mulutku ingin meneriakkan sesuatu. Namun tetap saja aku terdiam membisu. Ada sesuatu yang membungkam mulutku.
Kulihat ia mulai melangkahkan kakinya menyeberangi jalan. Ia sama sekali tak mempedulikan aku. Ia melangkah pergi dari hadapanku, tanpa menatapku sedikit pun. Dan aku hanya bisa menatapnya pergi. Ia pergi seakan takkan kembali lagi.
Malam itu adalah malam di mana aku menyadari jika tak ada gunanya lagi aku mengharapkan dirinya kembali. Aku tak pantas untuk berharap akan ada orang yang kasihan padaku. Lebih tak pantas lagi jika aku berharap ia mau memaafkan aku. Di dalam pikiranku, dia seolah menuntutku untuk berjalan di atas rasa penyesalan ini. Meski aku ingin ini berakhir, tetap saja tak bisa kuakhiri. Hanya dia yang bisa mengakhiri semuanya.
Aku hanya bisa berbicara tentang dia. Ia mengingatkanku pada semua hal. Ia mengingatkanku pada rasa sakit yang aku buat sendiri. Aku ingin mengobati rasa sakit itu, dan aku sadar jika obatnya adalah kehadiran dirinya di hatiku, dan kehadiranku di hatinya. Maka aku hanya bisa berharap, namun hanya ada harapan kosong yang mungkin datang padaku.
Aku berjalan di sepanjang jalan menuju ke taman kota yang dipenuhi oleh burung-burung merpati. Aku berdiri di dekat merpati-merpati itu, sambil memberikan makan kepada mereka. Segenggam biji-bijian aku tebarkan di atas jalan. Mereka memakan biji-bijian itu. Aku mulai berpikir, betapa sederhananya hidup mereka. Sedangkan hidupku terasa begitu rumit. Setiap detikku hanya terisi dengan pikiran-pikiran yang membuatku tak bisa tenang. Ada saja yang aku pikirkan.
Aku ingat saat pertama kali aku bertemu dengan Miya. Di sinilah tempatnya, di taman ini. Aku berdiri di dekat merpati-merpati ini, sedang memberi makan mereka, sedangkan dia duduk di bangku dekat pohon itu, sedang membaca sebuah buku. Tatapan mataku tak bisa lepas dari dirinya. Entah kenapa aku langsung mengagumi dirinya, meski baru pertama kali aku melihatnya. Ada sesuatu dari dalam dirinya yang menarik jiwaku untuk mendekat. Ia seperti seorang putri di dalam dongeng. Begitu anggun, begitu mempesona, namun terkadang misterius.
Aku terus memandangi wajahnya dari kejauhan. Seperti ada sebuah kontak, ia pun menyadari jika ada orang yang memperhatikan dirinya. Ia menatapku sekilas sambil tersenyum tipis padaku. Setelah itu ia kembali membaca bukunya, dan tak lagi menatapku meski hanya sekilas.
Aku bisa mengenali judul buku yang ia baca, karena aku juga memilikinya, dan belum selesai aku baca. Mungkin membacanya di tengah taman seperti saat ini akan terasa menyenangkan.
Akhirnya aku pergi meninggalkan taman, karena ada yang harus kukerjakan. Ada banyak tugas yang menantiku waktu itu. Dan yang bisa kulakukan hanya mengingat wajahnya, tanpa berpikir untuk bisa mengenalnya lebih jauh. Bisa kukatakan jika untuk beberapa saat ia bisa menenangkan jiwaku di saat pikiranku sedang kacau.
Keesokan harinya, di waktu yang sama, aku pergi ke taman. Kali ini aku membawa buku untuk kubaca. Aku duduk di bangku taman, dimana kemarin ia duduk di sana. Ternyata rasanya menyenangkan juga. Aku bisa menghirup udara segar sambil melihat orang-orang berlalu lalang di sekitar taman.
Sekitar setengah jam aku membaca buku. Dan kemudian, pandangan mataku mengarah pada burung-burung merpati yang hinggap di tengah taman, di tempat biasa mereka aku beri makan. Ternyata mereka tertarik dengan biji-biji jagung yang seseorang lemparkan kepada mereka. Dan ternyata, Miya yang melemparkan biji-biji jagung itu. Aku memandanginya, sejenak aku melupakan isi dari buku yang sedang aku baca. Tak lama kemudian ia menatapku sambil tersenyum. Ia menunjukkan biji-biji jagung yang ada di genggaman tangannya kepadaku. Aku tak mengerti apa maksudnya.
Aku datang mendekatinya. “Hai,” sapaku.
“Hai,” balasnya, sambil melemparkan biji-biji jagung itu pada burung-burung merpati.
“Aku melihatmu kemarin,” kataku, memulai pembicaraan. “Di bawah pohon itu.” Aku menunjuk ke arah pohon tempatku duduk tadi.
“Ya. Aku juga melihatmu, menebarkan biji-bijian pada burung-burung itu. Ternyata menyenangkan juga.”
“Ya. Membaca buku di bawah pohon itu juga ternyata menyenangkan,” ujarku. “Selain kemarin, aku tak pernah melihatmu di sini sebelumnya.”
“Aku baru saja menetap di kota ini,” ujarnya.
“Orang baru ya?”
“Begitulah.”
“Kau butuh seorang teman?” tanyaku.
“Mungkin,” sahutnya.
“Aku Christian.” Aku memperkenalkan diriku padanya.
“Miya.” Ia menyebutkan namanya.
Kami berjabat tangan.
“Senang berkenalan denganmu,” ucapku.
Sejak saat itu kami jadi sering bertemu. Dari bertemu setiap minggu menjadi setiap hari.
Jika kuingat pertemuan waktu itu, aku ingin sang waktu membawa aku kembali ke sana. Ada banyak hal yang ingin kuubah, ada banyak hal yang ingin kuperbaiki. Aku ingin memiliki awal dan akhir yang bahagia. Namun yang terjadi memang seharusnya terjadi. Takkan bisa kuubah dan takkan bisa kuperbaiki.
Ternyata cinta yang sebenarnya cinta, hanya bisa dirasakan saat kita merasa kehilangan cinta itu. Dan aku pun hanya bisa mengucapkan kata maaf pada dirinya…
I’m looking for a place where I can forget you
But there’s no such place even I’m far away from you
Because you are inside, in every atom of my body
And you are the air in every breath that I take
Yogyakarta, 10 Maret 2007